Kapitalisme Religi


INSPIRASI PAGI 

Tulisan ini, bernarasi kritik sosial, tapi bisa jadi merambah keberbagai lini kehidupan. 

Ekspektasi saya tidak "TERMUL" (Tidak Mulut-mulut); "Selamatkan keluarga dan generasi muda kita demi masa depan agama dan bangsa"

Judul Diskusi: 
Kapitalisme Religi
Oleh Safri

Tema : "Fenomena Kelesuan Pergerakan  Keberagamaan dan tantangan Kapitalisme dalam Kaderisasi Bangsa"

Sub tema:
Kapitalisasi Religi dalam proses pembentukan karakter Pengetahuan dan Pemahaman.

Tantangan :
1. Kecenderungan generasi muda dalam mencari ephoria hidonisme.
2. Pengaruh teknologi smart dan narkoba menjebak dalam kebuntuan berpikir cerdas dan religi.
3. Antara kebutuhan hidup dan pengabdian pada keber-agama-an yang tidak seimbang.


MUQADDIMAH

Kapitalisme religi = istilah buat fenomena agama/keberagamaan yang "dijual" dan dijadikan komoditas untuk cari keuntungan ekonomi.

Singkatnya: agama jadi "produk", atau keberagamaan jadi "bisnis".

3 Ciri utama menurut sosiolog dan  cendekiawan muslim:

1. Agama jadi produk jualan.
 Misalnya: Ada paket umrah "eksklusif", minyak wangi "kiblat", baju "sunnah" harganya selangit, kajian bayar mahal tapi janji surga. Niat utamanya profit, bukan dakwah.

2. Simbol agama dipakai buat branding 
Misalnya :   Logo masjid, ayat Qur’an, nama "syar’i", label "halal" dipakai buat naikin harga jual.

Padahal kualitas/isinya biasa aja. Tujuannya biar laku di pasar muslim

3. Motivasi keberagamaan bergeser misalnya : Dari "cari ridho Allah" jadi "cari untung dunia"

Orang jadi rajin ngaji bukan karena Allah, tapi karena yang ngisi ustadz seleb = views + endorsement gede.

Contoh nyata:
- Travel umrah/haji abal-abal yang jual "paket VIP dekat Ka’bah" tapi fasilitas zonk
- Ustadz influencer yang jual madu "ruqyah" harga 10 kali lipat.
- Kaos, parfum, kurma yang harganya mahal cuma gara-gara dikasih embel-embel "islami"

Pendapat ulama:

Ulama nggak melarang jual-beli yang halal. Jual sajadah, buka pesantren, atau jadi mubaligh dibayar itu boleh.

Yang dikritik = NIAT tambah CARANYA

Kalau udah menipu, melebih-lebihkan, atau bikin orang merasa "kurang islami" kalau nggak beli, itu yang masuk kapitalisme religi

Sudut Pandang Imam Al-Ghazali dulu udah ngingetin:
Ilmu agama jangan jadi alat cari dunia. Nabi Muhammad SAW, juga melarang menjadikan ayat Qur’an sebagai "barang dagangan".

Kesimpulan sementara:
"Intinya: agama tambah bisnis boleh. Tapi kalau agamanya yang dijual dan iman jadi alat marketing, nah itu kapitalisme religi._

Banyak problematika umat Islam yang saat ini belum terselesaikan, bahkan belum maksimal berjalan dengan program sosial dan pendidikan serta kesehatan.

Kendalanya pada persoalan finansialnya, yaitu ekonomi dan pendapatan.

Semoga bermanfaat 
🙏🏼🙏🏼❤️❤️

Posting Komentar

0 Komentar