​Hari Pers Nasional 2026: Ketika Algoritma Menulis, Manusia yang Memberi Jiwa



Hari Pers Nasional 2026: Ketika Algoritma Menulis, Manusia yang Memberi Jiwa
​Oleh: MUh.Ilyas. HS
(Pemerhati Hukum dan Media)
Hari Pers Nasional tahun 2026 Soroti Sejarah Dan Desak Revisi UU Pers. Forom Wartawan Kebangsaan (FWK) Menilai Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Pada 9 Ferbuari Harus Tetap Dipertahankan Tanggal Itu Berdasar Sejarah Perjuangan Pers, Bukan Sekedar Bertepatan Dengan Hari Lahir Organisasi.

realitasnews net -- Makasar, -- Salah satu pendiri FWK, Hendri CH Bangun, mengatakan gugatan dari sejumlah pihak seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan ikatan Jurnalis Televisi Indonesia sah dalam demokrasi. Namun ia menegaskan pada tanggal 9 Februari di Solo menjadi momen penting ketika 120 Wartawan berkongres dan menyatakan bersatu mendukung kedaulatan bangsa. Saat itu Republik menghadap ancaman penjajahan kembali oleh Belanda dan isu Indonesia dibahas di PBB. Media seperti Kedaulatan Rakyat, Harian Merdeka, dan RRI berperan menyuarakan bahwa Indonesia masih ada "itu sejarahnya," ujar Hendri pada Selasa 3 Februari 2026.

Hari Pers Nasional ini jatuh pada momen yang paradoks. Di satu sisi, informasi mengalir lebih deras dari air bah; di sisi lain, publik semakin kehausan akan kebenaran yang jernih. Kita berada di era di mana Artificial Intelligence (AI) tidak lagi sekadar "alat bantu", tetapi telah menjadi produsen konten paling produktif di muka bumi.

​Jika kita membuka lini masa media sosial hari ini, kita berhadapan dengan realitas sintetik. Artikel berita bisa dibuat dalam hitungan detik oleh Large Language Models (LLM) generasi terbaru. Foto peristiwa bisa direkayasa dengan presisi yang mengerikan.

Pertanyaannya kemudian menyeruak di benak setiap jurnalis dan pemilik media: Jika algoritma bisa menulis lebih cepat, lebih rapi, dan (terkadang) lebih akurat secara tata bahasa, lantas di mana tempat bagi manusia ?
​Jawabannya ada pada satu kata yang tidak dimiliki oleh kode biner : "Jiwa".
​Jurnalisme Bukan Sekadar Data. 

​Sejak 2024 hingga 2026, kita menyaksikan pergeseran masif. Media yang hanya mengandalkan "kecepatan" dan "klik" mulai berguguran atau sepenuhnya menyerahkan operasionalnya pada mesin. Wajar, karena manusia tidak akan pernah menang melawan mesin dalam lomba lari kecepatan data.
​Namun, jurnalisme sejatinya bukan sekadar memindahkan fakta dari lapangan ke layar gawai. Jurnalisme adalah tentang konteks, nuansa, dan keberpihakan pada kemanusiaan.

​Sebuah algoritma bisa melaporkan bahwa "Rumah warga digusur di wilayah X". Tetapi, hanya jurnalis manusia yang bisa duduk di atas puing-puing rumah itu, mendengarkan isak tangis seorang ibu yang kehilangan tempat berteduh, mencium bau debu yang menyesakkan, dan merangkai kata-kata yang membuat pembaca di seberang pulau ikut meneteskan air mata.

Algoritma menyajikan data; manusia menyajikan rasa. Inilah "jiwa" yang tidak bisa dikoding.

​Verifikator di Tengah Lautan Halusinasi
​Tugas pers di tahun 2026 telah bertransformasi. Jika dulu pers adalah "pembawa kabar", kini pers harus menjadi "penjernih kabar" (clearing house).
​Di tengah banjir konten deepfake—di mana video tokoh publik bisa dipalsukan dengan sempurna—publik bingung membedakan mana realitas dan mana rekayasa. 

Di sinilah integritas wartawan diuji. Verifikasi faktual, cek silang di lapangan, dan skeptisisme profesional menjadi barang mewah yang mahal harganya.

​Pers Nasional harus berani memproklamirkan diri sebagai antitesis dari algoritma. Jika algoritma bekerja berdasarkan probabilitas kata, pers bekerja berdasarkan disiplin verifikasi.

Kepercayaan (trust) adalah mata uang baru yang jauh lebih bernilai daripada sekadar trafik (traffic).
​Harapan untuk Pers Masa Depan

​Merayakan Hari Pers Nasional 2026 bukan berarti kita menolak teknologi. Kita merangkul AI untuk membantu riset, transkrip, atau analisis data raksasa. 

Namun, kendali editorial, keputusan etis, dan sentuhan empati harus tetap di tangan manusia.

​Biarlah mesin mengerjakan apa yang bisa dihitung, namun biarlah wartawan mengerjakan apa yang berharga. 

Pers Indonesia harus tetap menjadi pilar keempat demokrasi yang "bernyawa". Ia harus tetap galak pada ketidakadilan, namun lembut pada kemanusiaan.

​Selamat Hari Pers Nasional. Panjang umur perjuangan, panjang umur jurnalisme yang bernurani.(**).

Posting Komentar

0 Komentar