Amazing, Mahasiswa PNUP Melalui PKM-PI Terapkan Alat VERTOKA "Sulap" Limbah Okara Jadi Produk Bernilai Ekonomi Dan Selamatkan Lingkungan

Amazing (Luar Biasa), gebrakan Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) 2026 melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penerapan Iptek (PKM-PI) "Sulap" Limbah Ampas Tahu (OKARA) Menjadi Produk Bernilai Ekonomi dan Selamatkan Lingkungan dari Pencemaran (Amdal) di Kelurahan Bontoa, Jeneponto. 

realitasnews.net - MAKASSAR,-  Diera digitalisasi, perkembangan zaman diiringi kemajuan teknologi. tidak dapat dipungkiri limbah hpme Industri, kadang menjadi permasalahan lingkungan dan sosial.

Mencermati hal tersebut, Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) 2026, melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penerapan Iptek (PKM-PI), dengan konsep karya ilmiah penggunaan VERTOKA dapat membantu mengoptimalkan pengolahan limbah ampas tahu melalui proses pengomposan serta menghasilkan produk organik yang lebih bermanfaat dibandingkan limbah okara yang tidak diolah.

Menurut, Ketua Kelompok Mahasiswa PNUP PKM-PI 2026, Iffah Nafisa Azzahra mengungkapkan, VERTOKA adalah Vertical Komposter Pengolahan Limbah Okara untuk membantu mengatasi permasalahan limbah ampas tahu. Salah satu home industri tahu, kata dia, yang menjadi tempat penelitian, yaitu  Pabrik Tahu Pak Eko, di Kelurahan Bontoa, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel), baru-baru ini, 

Lanjut Iffah menjelaskan, kegiatan penerapan teknologi VERTOKA dilaksanakan pada 6 Agustus 2026 dan dihadiri Lurah Bontoa, Bapak Sahrul, S.Kom., beserta jajaran Kelurahan Bontoa. Hadir pula Jufri, selaku Kepala Lingkungan Bontoa, Eko selaku pemilik "Pabrik Tahu Pak Eko" sekaligus mitra, dosen pendamping, serta masyarakat.

"Stuktur Program PKM-PI tersebut, diketuai Iffah Nafisa Az-zahra (Teknik Kimia), bersama anggota Muhammad Faturrahman (Teknik Mesin), Muh Sahril (Teknik Elektro), Putry Indah Sari (Teknik Kimia), dan Juan Elieser Patabang (Teknik Kimia), serta didampingi Dr. Rahmiah Sjafruddin, S.T., M.Eng.," jelasnya.

Lanjut Iffah menerangkan, VERTOKA dirancang sebagai teknologi pengolahan limbah ampas tahu yang dapat diterapkan langsung oleh mitra. Inovasi tersebut, kata dia, tidak hanya diarahkan untuk mengurangi limbah, tetapi juga mengubah ampas tahu menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.

“Melalui VERTOKA, kami ingin menunjukkan bahwa limbah ampas tahu masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Kami tidak hanya berfokus pada bagaimana limbah tersebut dikurangi, tetapi juga bagaimana limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai tambah bagi mitra,” terang Iffah kepada awak media.

Sementara itu, Ketua Kelompok PKM-PI ini memaparkan, Pabrik Tahu Pak Eko menghasilkan ampas tahu sebagai salah satu hasil samping dari proses produksi. Apabila tidak dikelola dengan baik, kata dia, limbah tersebut dapat menimbulkan bau dan berpotensi mengganggu kebersihan serta kenyamanan lingkungan sekitar.

"Nah, berangkat dari kondisi tersebut, tim PKM-PI PNUP mengembangkan VERTOKA sebagai solusi pengolahan yang mengintegrasikan beberapa tahapan pemanfaatan limbah ampas tahu," paparnya.

Iffah bersama timnya menunjukkan bahwa pada tahap awal, ampas tahu dimasukkan ke dalam unit VERTOKA untuk melalui proses fermentasi menggunakan EM4 dan molase. Kondisi proses kemudian dapat dipantau menggunakan sensor suhu berbasis Internet of Things (IoT) sehingga proses pengolahan dapat berlangsung secara lebih terkontrol.

"Ampas tahu yang telah difermentasi selanjutnya dimanfaatkan sebagai media budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Maggot yang dihasilkan dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai bahan pakan, termasuk diolah menjadi tepung maggot dan pelet ikan," tukasnya.
Lanjut kata dia, selain menghasilkan maggot, proses tersebut juga menghasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos. Sementara itu, cairan hasil pengolahan ditampung melalui sistem filtrasi dan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi pupuk organik cair (POC).

"Dengan konsep tersebut, VERTOKA menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengarahkan limbah yang sebelumnya kurang termanfaatkan menjadi sumber daya yang dapat digunakan kembali," tandasnya.

Tim PKM-PI PNUP juga memberikan pendampingan kepada mitra dalam pengoperasian VERTOKA. Pendampingan meliputi proses fermentasi ampas tahu, penggunaan dan pemantauan sensor suhu, budidaya maggot, hingga pemanfaatan hasil pengolahan.





Pendampingan tersebut dilakukan agar mitra tidak hanya menerima alat, tetapi juga mampu memahami proses dan mengoperasikan teknologi secara mandiri serta berkelanjutan setelah program PKM-PI selesai.

Tidak heran, jika Program tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Bontoa. Menurut Lurah Bontoa, Sahrul, S.Kom., mengatakan, ia menilai kehadiran mahasiswa PNUP yang membawa inovasi langsung ke masyarakat merupakan langkah positif dalam membantu menyelesaikan persoalan lingkungan.

Lurah Sahrul mengakui, Kami dari pihak Kelurahan Bontoa sangat mendukung kegiatan seperti ini. Kehadiran mahasiswa yang mau turun langsung melihat kondisi masyarakat dan memberikan inovasi merupakan hal yang sangat positif. 

"Kami berharap VERTOKA dapat terus dikembangkan dan menjadi salah satu contoh bahwa permasalahan di lingkungan dapat dicari solusinya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Sahrul.

Sementara itu, Kepala Lingkungan Bontoa, Jufri menilai, penerapan VERTOKA memberikan manfaat dari sisi lingkungan karena dapat membantu mengurangi permasalahan limbah ampas tahu yang berada di sekitar masyarakat.

“Kalau limbah seperti ampas tahu tidak dikelola, tentu bisa berdampak pada lingkungan, terutama dari segi kebersihan dan bau. Kami sangat senang dengan adanya kegiatan ini karena ada upaya untuk mengolah limbah tersebut," katanya. 


Jufri berharap, agar kedepannya masyarakat dan pemerintah   bisa melihat bahwa limbah sebenarnya masih bisa dimanfaatkan, khususnya menambah income pendapatan rumah tangga, sekaligus menyelamatkan lingkingan dari racun limbah. 

Apresiasi juga disampaikan Pemilik Pabrik Tahu, Eko sekaligus mitra. Ia mengaku tertarik dengan teknologi VERTOKA karena dinilai dapat membantu mengatasi permasalahan limbah yang dihasilkan dari proses produksi tahu.

“Saya sangat mengapresiasi tim VERTOKA PKM-PI PNUP karena sudah mau terjun langsung dan membantu kami dalam mengatasi permasalahan limbah ampas tahu. Saya juga sangat tertarik dengan alat VERTOKA ini karena menurut saya alat ini sangat bermanfaat untuk membantu pengolahan limbah di pabrik. Insyaallah alat ini akan saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” kata Eko.

Eko berharap, teknologi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga tidak hanya memberikan manfaat bagi Pabrik Tahu Pak Eko, tetapi juga dapat diterapkan secara lebih luas pada permasalahan limbah serupa.
Lurah Bontoa, Sahrul, S.Kom.
Kepala Lingkungan Bontoa, Jufri
Pemilik Pabrik Tahu, Eko

Sementara tim PKM-PI PNUP menambahkan, penerapan VERTOKA merupakan bentuk nyata penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pemerintah kelurahan, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan program tersebut.

"Melalui program ini, tim berharap VERTOKA dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh mitra setelah kegiatan PKM-PI berakhir. Pemanfaatan ampas tahu menjadi maggot, bahan pakan, kompos, dan pupuk organik cair diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan pengelolaan limbah yang lebih produktif di Kelurahan Bontoa," kuncinya. (Tim/RN-MKS)

Posting Komentar

0 Komentar